Setiap profesi yang ada memiliki suatu etika yang diharapkan untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh
pelaku-pelaku profesi tersebut. Etika digunakan dalam rangka melindungi baik
pelaku profesi dan pengguna
jasa profesi. Salah satu etika yang ada di Psikologi adalah
etika dalam proses tes psikologi, mulai dari administrasi, skoring,
interpretasi dan menyampaikan.
Tes psikologi hanya mampu dievaluasi oleh orang-orang yang ahli atau profesional dalam bidang tersebut, seperti tahu bagaimanan cara seleksi, cara me-skoring, dan car interpretasi. Nantinya praktek tes psikologi yang tepat diatur oleh prinsip-prinsip etika psikologi.
Dalam tes psikologi dikenal istilah Test Users dan Test Takers
Test Users : Orang yang memberi tes
Test Takers : Orang yang menerima tes
Faktor utama yang harus dimiliki oleh test users yaitu :
1. Prinsip psikometri dan statistika
Prosedur dalam mengadministrasikan dan
menskoring tes, begitu juga dalam menginteroretasi, melaporkan, dan menjaga
kerahasian dari hasil tes mereka (test takers).
2.
Hal-hal yang test users dapatkan dari
pengalaman-pengalaman yang tepat dalam semua aspek pengetahuan dan keterampilan
yang menunjang untuk penggunaan tes secara spesifik.
Hak dan Kewaiban Test Takers
Hak tes takers :
- Hak untuk menerima penjelasan terlebih dahulu tentang tujuan diadakannya tes psikologi, tesnya digunakan untuk apa, apakah hasil tesnya akan dilaporkan kepada test takers atau kepada yang lain, hasil tesnya akan digunakan untuk apa. Jika test takers memiliki kesulitan dalam memahami istilah dalam tes, mereka mempunyai hak untuk menanyakan tentang hal tersebut.
- Hak untuk mendapatkan hasil tes yang tetap dirahasiakan sesuai dengan hukum yang ada.
- Hak untuk mengetahui jika tes psikologi merupakan suatu pilihan dan mempelajari konsekuensi dari mengambil atau tidak mengambil pengetesan, test takers secara penuh mennyelesaikan pengetesan, atau membatalkan skoring.
- Hak untuk menerima penjelasan dari hasil test didalam waktu yang tepat dan menggunakan istilah yang mudah dimengerti.
Kewajiban Tes takers :
- Kewajiban untuk membaca atau mendengarkan hak dan kewajiban yang harus mereka terima dan lakukan.
- Kewajiban untuk bertanya terlebih dahulu sebelum tes tentang mengapa tes diberikan, bagaimana tes akan diberikan, apa yang akan mereka (test takers) lakukan, dan apa yang akan dilakukan pada hasil tesnya.
Perkembangan Test Psikologi
Tes-tes psikologi yang baru terus-menerus muncul dan tidak
terlihat kapan akan berakhirnya. Jika kita menghitung jumlah tes-tes yang
diperbaiki dan diperbarui, kita akan menemukan ratusan tes-tes baru yang
dipublikasikan disetiap tahunnya. Dorongan untuk melakukan perkembangan dalam
tes-tes ini adalah karena adanya perselisihan pendapat oleh professional
tentang cara terbaik untuk mengukur atau melihat karakteristik dari manusia.
Selain itu dorongan untuk melakukan perkembangan dalam tes juga dating dari
tekanan public dan professional yang hanya mau menggunakan instrumen yang adil,
akurat dan tidak memihak. (Kaplan
& Sacuzzo, 2012)
Test Psikologi di Internet
Perkembangan internet yang sangat cepat dalam beberapa tahun
terakhir ini juga berdampak pada tes psikologi. Seperti yang sudah diketahui
bahwa saat ini banyak referensi-referensi dari situs-situs di internet yang
memberikan banyak informasi tentang tes psikologi dan isu-isu dalam
penggetesan. Saat ini banyak situs-situs yang menawarkan survei, kuesioner, dan
alat-alat yang yang mendukung tes psikologi. Saat ini juga banyak terdapat tes
psikologi online, beberapa ada yang legal dan beberapa tidak. Pengaruh dari internet terhadap tes
psikologi tampaknnya akan tetap berlanjut hingga beberapa tahun kedepan. Salah
satu alasannya adalah karena kecepatan, dimana tes dapat dikembangkan,
diterbitkan, dan diperbaiki menggunakan web dan teknologi analisis.
Selain itu alasan lain
adalah alasan efisiensi dan ekonomis karena jasa pengetesan dilakukan secara
online dan dapat dilakukan didalam jarak yang jauh, apalagi saat ini terjadi
peningkatan pengetesan melalui video secara online.
Walaupun tes psikologi secara online memiliki
beberapa keuntungan, penggunaan tes psikologi secara online juga memiliki
beberapa kekurangan, antara lain kemungkinan penggunaan tes psikologi untuk
tujuan yang membahayakan atau disalahgunakan dan tidak terjaminnya kerahasiaan
dari hasil tes psikologi. (Urbina, 2014)
Kode Etik dalam Psikologi
Dengan adanya etika ini muncul yang namanya kode etik (code of conduct) yaitu tata cara yang seharusnya
diikuti oleh para pelaku profesi dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kode etik adalah norma dan asas
yang diterima oleh kelompok
tertentu sebagai landasan tingkah laku.
Biggs dan Blocher (1986) mengatakan ada tiga fungsi kode
etik yaitu :
- Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.
- Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
- Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.
Di Indonesia, Kode Etik Psikologi dikeluarkan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).
Kode Etik Psikologi merupakan seperangkat nilai-nilai untuk ditaati dan dijalankan
dengan sebaik-baiknya dalam melaksanakan kegiatan sebagai psikolog dan ilmuwan
psikologi di Indonesia (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010). Tetapi ada
beberapa orang dalam kelompok profesi (dalam hal ini adalah profesi psikolog)
yang berbuat penyelewengan/penyimpangan terhadap peraturan yang telah
ditetapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar